Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Ibadah Syukur

Ibtida dari syukur ialah dapat melihat realitas dengan sebenar-benarnya. Puncaknya adalah penerimaan serta penggunaan nikmat secara utuh dan optimal. Ngomong soal syukur, bagi kita, terasa begitu basi kadang. Selain karena berjibun ajakan bersyukur yang begitu saja, juga kadang sementara pembaca menempatkan dirinya telah bersyukur, hingga bacaan tentang syukur hanyalah angin sepoi. Penulis diposisikan sebagai orang sudah lihai dalam bersyukur. Ah, handai taulan. Penglihatan yang benar-benar jelas terhadap realitas, bahwa apa yang dimiliki tidaklah benar-benar 'dimiliki', yang dimiliki sudah mencukupi kebutuhan, memiliki yang lebih merupakan tidak dibutuhkan, hal-hal demikian melahirkan kesadaran penuh bahwa apa dalam genggaman tidak lebih buruk dari orang lain. Pada kemudian, kesadaran itu mengantarkan pada penerimaan dan penggunaan apa yang dalam genggaman pada yang diciptakan untuknya dengan baik, utuh, dan tanpa cela. Hanya dengan begitulah ibadah syukur dapat tertunai denga...

Kenisbian Payah dan Mudah

  Seharusnya tidak ada yang benar-benar payah dalam hidup ini. Payah dan mudah hanya perkara kebiasaan atau tidak. Kepayahan sesuatu berbanding lurus dengan ketakbiasaan, sebaliknya begitu juga. Begitulah sunatullah berlaku pada hampir semua perkara. Memang ada sebagian hal yang dikatakan “sulit”, tetapi kesulitan ini bukan berarti tidak akan pernah mudah. Ia akan menjelma kemudahan ketika kebiasaan sudah berlaku nantinya. Penaklukan gunung tinggi bagi seseorang tidak akan benar-benar sulit ketika ia bersikukuh dan bersabar pada jalan terjal dan menukik tajam itu. Layaknya mencari ilmu (dalam hal ini mengkaji kitab kuning), semuanya hanya soal kebiasaan. Bagi pemula, tentulah memahami kitab panjang lebar tetap akan sulit. Selain karena tidak biasa, ia juga belum cukup kualifikasi untuk memahami. Maka, sebaliknya bagi orang-orang yang “nyaman” dengan tingkatan tinggi dalam beut-seumeubeut , tentulah menghafal dan mengusai matan-matan di kemudian hari yang seharusnya sudah lebi...