Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Menaksir Takdir

Tergesa-gesa adalah celaka. Terlambat-lambat adalah telat. Pada apapun, kedua itu tidak baik dan indah. Bahkan soal rezeki, termasuk rezeki jodoh. Tersera-sera dalam meraba-raba, menyatakan, dan menanyakan kesediaan takdir mempertemukan. Yang dikorbankan juga tak tanggung, hati dan asa adalah terdakwa paling tertuduh. Bagaimanapun, cinta tetaplah cinta. Rasa tetaplah rasa. Soal memiliki, ya, lain perkara. Mencintai satu rezeki, takdir menyatukan satu rezeki lainnya. Keduanya tidak mesti bersatu sama lain. Hanya hati dan jiwa yang paling ikhlas bisa menyimak hal ini. Adapun orang-orang yang sudah memberikan cinta pada kekasihnya yang kemudia tahu-menahu takdir membanting setir, merekalah orang yang menyakini bahwa sesungguhnya cinta adalah sifat yang tak kekal dua waktu, yang mungkin bisa tak habis-habis diberi Sang Empunya. Orang-orang yang tak menyakini demikian maka memilih jalan meraba sebelum waktunya adalah baginya petaka. Kelompok pertama, khawatir mereka akan takdir berban...