Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Biar Semangat Belajarnya Tidak Sia-sia

Setiap aktifitas dalam melaksanakan suatu proses tertentu tidak boleh sunyi dari passion atau disebut dengan semangat. Apa saja, bahkan hal remeh temeh pun perlu digandengi dengan semangat. Makin besar tujuan yang ingin diraih makin besar pula semangat dalam prosesnya diperlukan. Wa bilkhusus proses belajar agama, diperlukan semangat yang agung, tentunya. Bukan tanpa sebab, karena ilmu adalah tujuan mulia, tak kurang jebakan serta banyak rintangan. Pendahulu pun begitu mewanti-wanti untuk mewujudkan dan menjaga semangat belajar. Tanpa semangat ia proses belajar hanya akan berjalan di tempat. Di saat yang sama, pendahulu kita tidak lupa juga mewariskan cara dan metode belajar yang telah terbukti keberhasilannya. Ini menjadi dalil semangat dan cara harus bergandengan tangan.  Tanpa, cara metode dan strategi yang benar maka belajar akan kacau. Tak berarah. Kalau pun terarah ia hanya akan bertahan sekejap. Karena ia begitu dibutuhkan bukan berarti dengan memiliki...

Perihal Berdoa, Syaitan Masih Lebih Berani

Konon, doa menjelma senjata muslim. Berdoa sampai saat ini dan akan datang terus dianjurkan Allah. Berdoa dalam praktiknya merupakan sebagai bentuk pernyataan diri akan kelemahan dan ketidakberdayaan, sebagai ajang berduaan dengan Tuhan, sebagai media berbincang mesra denganNya.  Namun meski ayat dan hadis yang menganjurkan untuk berdoa telah cukup kita pahami bukan tidak mungkin dalam kenyataan kita kerap malu atau bahkan enggan bermesraan dan mengemis pati kasih pada Tuhan. Ini tidak dapat diingkari. Entah apa pun sebabnya kita seperti malu-malu kucing berdoa pada Tuhan, alih-alih menyembunyikan permintaan pada Sang Maha Mengetahui. Salah satu berita yang sudah cukup acap kita dengar tentang berdoa ialah "Allah begitu dekat dengan hamba lagi Dia Maha mengabulkan permintaan, maka mintalah apa yang engkau kehendaki Allah akan mengabulkannya".  Dalam kesempatan lain, boleh jadi kita bukan meminta dikasihani malah memerintah Tuhan untuk mencukupi apa yang diingini oleh...