Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
Berawal dari beberapa cuplikan cerita kawan-kawan, serta tragedi yang menimpa diri saya sendiri lah saya menulis tentang ini. Adalah sikap beberapa manusia yang memandang sinis—untuk tidak berkata mengecam—santri tradisional(Baca: Dayah Salafi) bersebab tidak menghafal al-Quran, lagi yang berujar itu menyebut tidak hafal al-Quran merupakan sebuah kekurangan yang kurang amat di saat ini dan di sini. Aduhai rasanya diceramahi, disiramrohani tentang pentingnya hafal al-Quran. Tapi saya bersyukur, sekurangnya saya bisa mengetahui kekurangan diri. Oleh sebagian manusia tersebut ber hujjah bahwa penghafal al-Quran di ini zaman sangat dibutuhkan. Jangan sampai saat mengimami shalat membacakan ayat yang saban hari bisa dihafal anak bayi sekalipun, surat al-Ikhlas misalnya. Bahkan menambahkan, keharusan menghafal al-Quran ini agar generasi kecil terpantik untuk menghafal al-Quran hingga menjadi Insan Qurani katanya. Setidaknya, itu yang banyak dijadikan dalil keharusan men...