Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Antara Mengkaji Kitab Kuning Dan Menghafal al-Quran: Jurang Yang Tak Terjembatani?

Berawal dari beberapa cuplikan cerita kawan-kawan, serta tragedi yang menimpa diri saya sendiri lah saya menulis tentang ini. Adalah sikap beberapa manusia yang memandang sinis—untuk tidak berkata mengecam—santri  tradisional(Baca: Dayah Salafi) bersebab tidak menghafal al-Quran,  lagi yang berujar itu menyebut tidak hafal al-Quran merupakan sebuah kekurangan yang kurang amat di saat ini dan di sini. Aduhai rasanya diceramahi, disiramrohani tentang pentingnya hafal al-Quran. Tapi saya bersyukur, sekurangnya saya bisa mengetahui kekurangan diri. Oleh sebagian manusia tersebut ber hujjah bahwa penghafal al-Quran di ini zaman sangat dibutuhkan. Jangan sampai saat mengimami shalat membacakan ayat yang saban hari bisa dihafal anak bayi sekalipun, surat al-Ikhlas misalnya. Bahkan menambahkan, keharusan menghafal al-Quran ini agar generasi kecil terpantik untuk menghafal al-Quran hingga menjadi Insan Qurani katanya. Setidaknya, itu yang banyak dijadikan dalil keharusan men...

Dakwah Media Sosial: Disyukuri Atau Disesali?

Media sosial, dengan segenap manfaat dan mudharatnya, tetap menjadi kebutuhan kita. Ia menjelma makanan pokok dan air putih. Tanpanya kita merasa gerah dan lapar. Lebih dari itu, media dengan manfaatnya kadang menjadi manfaat yang sebenar-benarnya manfaat. Atau kadang celaka, menjadi mudharat yang tersampul dengan manfaat. Sebagian yang saya pikir media menjelma manfaat sebentar ialah dakwah melalui media. Sebab, diakui atau tidak, betapa perkara yang nampak baik di mata manusia tapi berimbas buruk, pun begitu sebaliknya. Kita tidak mencekal dakwah lewat media, malah kita harus bersyukur. Kita tidak melarang adanya dakwah lewat media, justru itulah jalan yang harus ditempuh di ini masa. Dengan wujudnya, banyak nian orang yang berubah, berubah dari buruk menjadi baik tentunya. Namun, butuh kehati-hatian yang luar biasa dalam berdakwah di media.  Sekian membludak akun-akun yang agamis, betapa banyak orang-orang yang menyeru ke jalan Tuhan. Melimpahnya akun ini tidak terbebas...