Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Agar Wadah Kita Luas

Agama Islam secara terang-terangan menyuruh pemeluknya untuk menuntut ilmu. Hal ini tak terkecuali bagi siapapun. Karena hal itu titah agama maka ia tak lepas dari tujuan. Tujuan dari menuntut ilmu antara lain agar lenyap kebodohan, tahu mana yang benar dan salah. Dan yang paling esensial adalah agar "wadah" kita luas.  Tujuan yang terakhirlah yang patut dianggap penting dewasa ini. Meski dari lenyapnya kebodohan keluasan wadah akan luas dengan sendirinya juga. Namun, masalahnya, betapa dari kita yang agaknya sudah lenyap kebodohan, tapi masih saja wadahnya kurang luas.  Ah, iya, saya hampir lupa memaknai "wadah". Maksudnya adalah alam pikiran atau khazanah keilmuan. Karena, begitu seseorang sudah luas wadahnya maka apapun bisa masuk dalam pikirannya. Orang itu akan tidak mudah kaget dan terkejut dengan perbedaan yang ia dengar karena ia dapat memakluminya. Bukan tanpa alasan saya menulis masalah ini. Adalah kenyataan mengungkapkan bahwa sebagian dari...

Semangat Maulid

Telah kita sepakati bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 12 bulan rabiul awal. Kita sebagai umat terkasihnya, tentulah berbahagia menyambut dan merayakannya. Beraneka sambutan yang didekasikan kepadanya banyak kita temukan di belahan bumi kita, juga di belahan bumi lain. Dari berbagai macam sambutan itu adalah kita sekarang agaknya masih saja duduk-berdiri meluruskan dalil-dalil atas dasar apa ketentuan merayakannya. Aduhai. Begitu sibuk meluruskannya hingga kita lupa dengan esensi perayaan itu. Dengan begitu, bukanlah maksud tulisan ini untuk menilik dalil-dalil itu. Kita kesampingkan masalah dalil wa laka dalil, agar otak kita tak semrawut dan tak mentok pada dalil-dalil saja. Adalah para ulama masa lampau, bila bulan Rabiul Awal hampir datang mereka bersiap-siap layaknya bersiap menyambut bulan Ramadhan. Antusiasme mereka hebat bukan buatan. Mulai membaguskan niat, meninggalkan aktivitas yang tidak penting, menyiapkan berbagai aneka makanan untuk dibagikan, d...