Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
Selamat malam, Baginda. Baginda apa kabar? Semoga senantiasa Allah limpahkan salawat dan salam kepadamu, Baginda. Malam ini, katanya, malam yang lebih kau cintai dari pada malam-malam yang lain. Katanya, malam ini engkau duduk bersahaja, menunggu umatmu mengungkapkan cintanya yang bertalu-talu kepadamu. Katanya juga, malam ini engkau begitu menyintai umatmu yang ikhlas bersalawat kepadamu. Pun, katanya, sesiapa yang mengucapkan shalawat kepadamu sekali maka ia berhak mendapat balasan sepuluh kali. Berbahagialah mereka. Atas semua katanya itu, aku belum mampu, Baginda. Atas semua katanya itu dan yang lain, aku belum mencintaimu sepenuhnya, Baginda. Apatah makna cintaku padamu ini, Ya Baginda. Padahal aku hanya mampu mencemburui umatmu yang nyata tak tersangkal cintanya padamu. Apatah guna ungkapan cintaku padamu yang beriringan dengan mengkhianatimu. Sungguh, aku pencinta terbusuk. Untuk sekarang, aku hanya punya cemburu. Cukupkah itu, Ya Rasul?...