Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
Setiap 22 Oktober, berseliweran selebaran Memperingati Hari Santri. Semboyan yang disematkan kali ini, " menyambung juang, merengkuh masa depan", seakan mengajak setiap insan yang bersifat dengan sifat santri untuk mengenal dirinya sendiri, lagi, serta terus menatap mantap ke depan dengan setiap usaha-usahanya dalam pengembaraan ilmu. Berbetulan dengan memperingati hari santri, penulis ingin mengajak pembaca, khususnya santri, untuk kembali merenungi kembali titik kelemahan dan kekurangan kita, terutama sisi keilmuan, untuk kemudian diupayakan perbaikan-perbaikan yang optimal dan mendasar, baik dari sendiri atau lembaga tempat dinaunginya. Sebelum itu, penulis adalah seorang yang bersifat santri dengan makna yang sudah masyhur. Dakwaan ini diperlukan agar semua dakwaan di depan nanti sesuai dengan pendakwa, dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan oleh orang yang separuh besar hidupnya sudah dihabiskan dalam dunia santri. Biarkan saya m...